Skip to main content
Pelajar Koding

follow us

Artikel Menanam Lengkuas

 Rimpang yang baik untuk bibit yakni serpihan ujungnya Artikel Menanam Lengkuas



Rimpang yang baik untuk bibit yakni serpihan ujungnya. Pengolahan tanah dilakukan dengan menggemburkan tanah dan dibentuk guludan-guludan. Pupuk yang dipakai mencakup pupuk kandang, kompos, dan pupuk buatan. Juga dibutuhkan bahan-bahan kimia untuk pemberantasan gulma. Panen dilakukan pada ketika tumbuhan berumur 2½ – 3 bulan, dan jangan lebih renta dari umur tersebut, lantaran rimpang akan mengandung serat garang yang tidak disukai di pasaran.

Perbanyakan tanaman lengkuas sanggup menggunakan potongan rimpang yang sudah renta dan bertunas atau rimpang anakan, kemudian dipecah-pecah menjadi beberapa ruas dengan 2-3 tunas dalam tiap pecahannya atau diadaptasi dengan rencana kebutuhannya. Rimpang renta sebaiknya dipilih yang beratnya 50 gram, dan ukurannya seragam. Rimpang sanggup ditunaskan di atas 3- 5 lapisan jerami atau alang-alang alang- alang yang dihamparkan di atas tanah. Penyemaian juga sanggup dilakukan di atas rak- rak kayu. Penyiraman selama pembibitan hingga bertunas dilakukan untuk memelihara sebagian besar mata rimpang. Pertunasan dianggap cukup bila semua atau sebagian besar mata rimpang sudah tumbuh 1- 2cm, biasanya berumur 3-4 minggu. Setelah rimpang bertunas atau dipelihara selam 1-2 bulan, bibit yang pertumbuhannya seragam siap ditanam di lahan. Untuk proses pembibitan, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan lebih mendalam yaitu sebagai berikut: 

Persyaratan bibit : 
bibit berkualitas yakni bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi), dan mutu fisik. Yang dimaksud dengan mutu fisik yakni bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh lantaran itu kriteria yang harus dipenuhi yaitu: (1) Bahan bibit diambil pribadi dari kebun (bukan dari pasar). (2) Dipilih materi bibit dari tumbuhan yang sudah renta (berumur 9-10 bulan). (3) Dipilih pula dari tumbuhan yang sehat dan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

Teknik penyemaian bibit: untuk pertumbuhan tumbuhan yang serentak atau seragam, bibit jangan pribadi ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit sanggup dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.

1) Penyemaian pada peti kayu

Rimpang yang gres dipanen dijemur sementara (tidak hingga kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan mempunyai 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, kemudian dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada serpihan dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi bubuk gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas yakni bubuk gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 ahad lagi, bibit tersebut sudah disemai.

2) Penyemaian pada bedengan

Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibentuk bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami kemudian ditutup jerami, dan di atasnya diberi rimpang kemudian diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan serpihan atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan sanggup dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih biar tidak terbawa bibit berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan mempunyai 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

3) Penyiapan Bibit

Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari bahaya penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam. 

Baca Juga Cara membuat pelet ikan gurame organik disini

Pengolahan Lahan 

1) Persiapan Lahan: 
Untuk mendapat hasil panen yang optimal harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yang dibutuhkan tanaman. Bila keasaman tanah yang ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tumbuhan maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.

2) Pembukaan Lahan: 
Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapat kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tumbuhan pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 ahad biar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka sanggup dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 ahad sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk sangkar dengan takaran 1.500-2.500 kg.

3) Pembentukan Bedengan: 
Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya buruk dan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan panjangnya diadaptasi dengan kondisi lahan.


4) Pengapuran: 
Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini sanggup menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat dibutuhkan tumbuhan untuk mengeraskan serpihan tumbuhan yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.

· Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
· Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
· Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha. 


1) Penentuan teladan tanaman: 
Pembudidayaan secara monokultur pada suatu kawasan tertentu memang dinilai cukup rasional, lantaran bisa menawarkan produksi dan produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tumbuhan secara monokultur kurang sanggup diterima lantaran selalu menimbulkan kerugian. Penanaman secara tumpangsari dengan tumbuhan lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
  • Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
  • Mnekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
  • Meningkatkan produktivitas lahan.
  • Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah tanggapan rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).
2) Pembutan lubang tanam: 
Untuk menghindari pertumbuhan yang jelek, lantaran kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam bibit.


3) Cara penanaman: 
Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan.


4) Perioda tanam: 
Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal ekspresi dominan hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan lantaran tumbuhan muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. 
Pemeliharaan 


1) Penyulaman: 
Sekitar 2-3 ahad sehabis tanam, hendaknya diadakan pengecekan untuk melihat rimpang yang mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman biar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tumbuhan lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik serta pemeliharaan yang benar.

2) Penyiangan: 
Penyiangan pertama dilakukan ketika tumbuhan berumur 2-4 ahad kemudian dilanjutkan 3-6 ahad sekali. Tergantung pada kondisi tumbuhan pengganggu yang tumbuh. Namun sehabis berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, lantaran pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.


3) Pembubunan: 
Tanaman memerlukan tanah yang peredaran udara dan air sanggup berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang yang kadang kala muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tumbuhan masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya sanggup diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tumbuhan berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.


4) Pemupukan:


a) Pemupukan organik: Pada pertanian organik yang tidak menggunakan materi kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk sangkar dilakukan lebih sering dibanding jikalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun tunjangan pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada ketika pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos sanggup juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun takaran pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan sehabis aktivitas penyiangan dan bersamaan dengan aktivitas pembubunan.


b) Pemupukan konvensional: Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tumbuhan perlu diberi pupuk susulan kedua (pada ketika tumbuhan berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang dipakai yakni pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua dipakai pupuk sangkar dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tumbuhan yang berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada ketika tumbuhan berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tumbuhan atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.


5) Pengairan dan penyiraman: Tanaman lengkuas tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal ekspresi dominan hujan sekitar bulan september.


6) Waktu penyemprotan pestisida: Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari ketika penyimpanan bibit yang untuk disemai dan pada ketika pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan. 
Panen 


Waktu panen simplisis rimpang lengkuas di tandai dengan berakhirnya pertumbuhan vegetative menyerupai daun memperlihatkan tanda-tanda kelayuan secara fisiologis. Pada keadaan ini rimpang telah berukuran optimal dan umur di lahan 10-12 bulan untuk lengkuas. Pemanenan dilakuakn dengan cara membongkar rimpang dengan garpu atau cagkul secara hati-hati biar tidak terluka atau rusak. Tanah yang menempel pada rimpang di bersihkan dengan cara di pukul pelan-pelan sehingga tanah terlepas. 
Pasca panen 


1) Pencucian


Rimpang yang telah di hilangkan batang, daun dan akarnya tersebut kemudian di bawa ke tempat pencucian. Rimpang direndam di dalam kolam pembersihan selama 2-3 jam. Selanjutnya rimpang di basuh sambil disortasi. Setelah bersih, rimpang segera di tiriskan dalam rak-rak peniris selama satu hari. Penirisan sebaiknya di lakukan dalam ruangan atau ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.


2) Perajangan


Perajangan untuk mempermudah pengeringan rimpang lengkuas. Jika lengkuas hendak dikonsumsi dalam keadaan segar maka perajangan tidak perlu di lakukan. Dan rimpang sanggup segera di manfaatkan sehabis di basuh dan ditiriskan. Perajangan sanggup menggunakan mesin atau perajang manual. Arah irisan melintng biar sel-sel yang mengandung minyak atsiri tidak pecah. Dan kadarnya tidak menmurun tanggapan penguapan. Tebal irisan rimpang antara 4-6 mm. Untuk mendapat warna dan kualitas lengkus yang bagus, sehabis perajangan rimpang lengkuas diuapi dengan uap panas atau di celup dalam air mendidih selama 1 jam sebelum dikeringkan.


3) Pengeringan


Pengeringan rimpang lengkuas sanggup menggunakan matahari langsung, alat pengering beretenaga sinar matahari, di angin-anginkan, atau menggunakan mesin pengeringan.


· Dengan matahari langsung


Pengeringan dilakukan di tempat cahaya matahari langsung. Sistem ini menggunakan waktu yang agak usang tergantung intensitas dan usang penyinaran.


· Penmgeringan dengan alat berenergi cahaya matahari.


Masih tergantung pada intensitas cahaya dan usang penyinaran, tetapi waktunya relative lebih singkat. Untuk itu, materi di hamparkan di atas rak pengering.


· Pengeringan dengan mesin


Pengeringan dengan mesin selain lebih cepat juga hasilnya lebih berkualitas. Hal yang perlu di perhatik an dalam pengeringan dengan mesin pengering ini yakni suhu pengeringan yang tepat. Untuk rimpang lengkuas sebaiknya di gunakan suhu pengeringan antara 40-60 0c. waktu yang dibutuhkan 3-4 hari.
Sumber http://tipspetani.blogspot.com/

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar